Saturday, April 28, 2007

Journey to My Past Lives

Nathalia Sunaidi: Kita Punya Banyak Soulmate

Benarkah soulmate itu hanya satu atau justru tak terhitung banyaknya? Mengapa tak sedikit orang terobsesi mendapatkan soulmateatau cinta sejatinya? Bagaimana pula dengan orang yang bisa jatuh cinta kepada banyak orang? Mungkinkah soulmate kita berasal dari kehidupan lalu? Misteri apa yang ada di balik itu semua?

Itulah pertanyaan-pertanyaan yang coba dijawab oleh Nathalia Sunaidi, seorang hipnoterapis muda berbakat, yang awal Januari 2007 nanti akan meluncurkan buku berjudul Journey to My Past Lives (Bornrich, 2007). Dalam buku tersebut, Nathalia membeberkan hasil penelusurannya ke kehidupan lalunya melalui metode regresi kehidupan lalu berdasarkan hipnoterapi. Di Indonesia, tampaknya baru dialah yang berani membongkar misteri reinkarnasi dan menyusunnya ke dalam sebuah buku.

Tak kurang dari 12 cerita menarik yang berhasil digali oleh perempuan kelahiran Jakarta, 5 Januari 1981 itu. Misalnya, berdasarkan regresi kehidupan lalu, Nathalia berhasil melacak bahwa dirinya pernah hidup sebagai seorang biku di tahun 475, menjadi budak kulit hitam di Amerika, jadi nelayan biasa di Thailand, jadi prajurit angin bangsa indian, bahkan ia pernah menjadi pelayan kedai yang hampir saja dipaksa melacurkan diri.

Tak kalah menariknya, berdasar regresi itu pula Nathalia berhasil menelusuri sebab-musabab tantenya meninggal di usia muda akibat kanker otak. Ia pun berhasil menelusuri mengapa paman kekasihnya menderita penyakit HIV/AIDS. Dan tentu saja, Nathalia berhasil menyingkap misteri sosok soulmate yang sejati. Dari penelusurannya, ternyata kita semua memiliki seorang soulmate, bahkan kadang jumlahnya bisa lebih dari satu.

“Buku ini cenderung kontroversial,” komentar Andy F. Noya. “Namun, buku ini mampu menggoda pikiran kita untuk mencari jawaban atas pertanyaan: Siapakah aku ini?” lanjut Pemred Metro TV dan Host Kick Andy tersebut.

Nathalia banyak membuka tabir reinkarnasi dalam bukunya tersebut. Selain itu, ia juga membagikan banyak hikmah yang dia dapat dari proses penelusurannya. “Pokoknya, menelusuri kehidupan lalu itu bisa menjadi pengalaman spiritual yang menakjubkan. Banyak pelajaran berharga bisa diambil dari sana,” ujar Nathalia yang belajar hipnotis secara outodidak.

Ketika Menulis Menjadi Takdir

Minggu, 29 Apr 2007,
DiBalik Buku - Ketika Menulis Menjadi Takdir

BUDI DARMA, guru besar Sastra Inggris Universitas Negeri Surabaya, Mei nanti memasuki masa purnatugas. Itu karena pada 25 April lalu usianya telah genap 70 tahun. Meskipun masih akan tetap mengajar sebagai guru besar emeritus, sastrawan terkemuka itu tampaknya akan lebih banyak waktunya untuk menulis, aktivitas yang paling disukainya.

Dalam pandangan Budi Darma, menjadi guru besar tidak jauh berbeda dengan keadaan ketika dirinya menjadi rektor pada 1980-an. Keadaanlah yang menuntutnya untuk memegang jabatan tersebut, tanpa ia minta dan inginkan. Ia memandang jabatan itu sebagai amanah. Tetapi ia juga merasa bahwa dengan menjadi rektor, kehidupannya sebagai sastrawan dan budayawan terampas.

Berbeda dengan jabatan tersebut, Budi Darma memandang menjadi pengarang adalah karena takdir. Wahyudi Siswanto dalam bukunya Budi Darma: Karya dan Dunianya (Grasindo, 2005), mengemukakan bahwa bakat, kemauan, dan kesempatan untuk menulis bagi Budi Darma tidak lepas dari takdir. Ia merasa ada sesuatu dalam dirinya yang memaksanya untuk menulis. Ia pun merasa bahwa tanpa menulis ia menjadi manusia tidak bermanfaat.

Namun, jangan dikira menulis membuat Budi Darma bahagia. Pandangan soal ini pernah dikemukakan dalam buku Proses Kreatif: Mengapa dan Bagaimana Saya Mengarang (editor Pamusuk Eneste) yang terbit pada 1984. Ia mengatakan, menulis justru menimbulkan kesengsaraan. Tidak menulis berarti berkhianat terhadap takdir. Tanpa menulis hidupnya terasa kosong, dan ia pun mengaku jarang menulis meskipun sebenarnya tulisannya sangat banyak.

Sebagai sastrawan, Budi Darma memang produktif. Ia menulis tidak hanya cerpen-cerpen dan novel, tetapi juga esai-esai sastra, dan juga puisi. Lihat misalnya tulisan Sunaryono Basuki di Jawa Pos edisi Minggu, 22 April 2007. Orang-orang memandangnya sebagai seorang yang jenius. Dalam berbagai forum seminar, misalnya, Budi Darma sering membuat para peserta takjub. Itulah karena apa yang ditulis di makalahnya persis sama dengan apa yang dikatakannya, termasuk dalam bahasa Inggris. Masuk akal bila pada 1963 ia menjadi lulusan terbaik Fakultas Sastra dan Kebudayaan UGM dan dengan mudah mendapat beasiswa untuk belajar di Amerika pada 1974 hingga lulus doktor pada 1980. Sekadar catatan, Budi Darma tidak hanya menguasai bahasa Inggris, tetapi juga bahasa Belanda dan Jerman, selain bahasa Indonesia dan Jawa, tentunya.

Dalam penampilannya, Budi Darma santun dan ramah pada siapa saja. Cara ia berpakaian dan berdandan juga rapi. Rumah dan halamannya asri dan bersih. Tetapi dalam tulisan-tulisannya, baik fiksi maupun nonfiksi, Budi Darma bisa melancarkan kritik sangat menyengat terhadap banyak pihak. Nada tulisannya pun sering blak-blakan.

Perihal studi sastra, yang tidak disukai dosen dan mahasiswa Fakultas Sastra, juga menjadi perhatiannya. Tulisannya di jurnal Prasasti yang diterbirkan FBS Universitas Negeri Surabaya, mungkin membuat banyak dosen dan mahasiswa salah tingkah.

Menurut Budi Darma, studi sastra terdesak oleh studi kebahasaan sejak akhir tahun 1960-an hingga saat ini, dan entah sampai kapan. Ia melukiskan bagaimana dosen di Jurusan Bahasa Inggris Fakultas Sastra sebuah PTN tidak satu pun yang memilih untuk mengampu mata kuliah sastra, padahal mereka semua tamatan Fakultas Sastra. Mereka memilih mengajar mata kuliah studi kebahasaan.

Kecenderungan terdesaknya studi sastra oleh studi kebahasaan disebabkan antara lain kemungkinan teknis. Semenjak awal 1960-an, banyak sarjana muda atau sarjana Indonesia dikirim ke luar negeri untuk belajar studi kebahasaan karena studi kebahasaan erat hubungannya dengan pengajaran bahasa asing. Sedang para sarjana muda dan sarjana yang memperoleh kesempatan untuk mempelajari studi sastra di luar negeri segan untuk mempergunakan kesempatan tersebut. Alasan mereka sederhana, yakni beban membaca dalam studi sastra terlalu berat, katanya.

Titik berat studi sastra, kata Budi Darma, adalah penghayatan. Segala sesuatu yang bersifat penghayatan lebih sulit dirumuskan daripada segala sesuatu yang bersifat kognisi. Karena itu, studi sastra kurang mempunyai formulasi yang jelas. Masalah-masalah dan penemuan-penemuan dalam studi sastra kurang dapat diformulasikan dan diartikulasikan dengan jelas pula. "Karena studi sastra kurang mempunyai formulasi yang jelas, maka studi sastra banyak dianggap kurang ilmiah," tuturnya.

Tetapi kalau toh studi kebahasaan dianggap lebih mudah dibanding studi sastra, apakah lantas muncul banyak karya tulis termasuk buku-buku kebahasaan? Jawabnya sama tidak menggembirakan. Sama dengan keadaan fakultas-fakultas yang lain, Fakultas Sastra juga tidak banyak memunculkan buku-buku. Bila ditanya soal ini, Budi Darma punya jawabannya, mungkin bisa memerahkan telinga.

Budi Darma mengatakan, tidak perlu berharap banyak dari dosen yang tidak mau menulis. Ia menyarankan agar kita "merelakan" para dosen itu bekerja hingga mereka pensiun. "Lebih baik kita menggantungkan harapan dari generasi muda," kata Budi Darma dengan nada datar. Dalam sebuah tulisannya pada 1983, Budi Darma mengemukakan bahwa pada dasarnya menulis itu memang sulit. Kesulitan untuk menulis terutama bersumber pada kurangnya kemampuan seseorang untuk berpikir kritis. Seseorang yang tidak dapat berpikir kritis dengan sendirinya tidak dapat mengidentifikasi dan memilah-milah persoalan dengan baik. Dan bila seseorang tidak mempunyai kemampuan melihat persoalan dengan betul, pikirannya juga tidak mempunyai kelengkapan daya analisis yang baik. Persepsi orang semacam ini dengan sendirinya kabur. Dan, kekaburan persepsi merupakan sumber kelemahan seseorang untuk menemukan persoalan yang dapat ditulisnya.

"Ketidakmampuan menemukan persoalan menyebabkan seseorang tidak mungkin menulis mengenai persoalan. Milik orang semacam ini terbatas pada kemampuan menceritakan kembali pengalamannya, atau apa yang pernah dilihatnya, didengarnya, dan dipelajarinya," kata Budi Darma. (*)

*) Djoko Pitono, editor dan penulis buku